Senin, 19 Juli 2010

Makalah Israiliyyat ...


Makalah
ISRAILIYYAT
Oleh :
Muchlis. Sulemang
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAKASSAR
2009

KATA PENGANTAR
Pertama-tama penyusun mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Karena hanya dengan bimbingan dan petunjuk-Nya dapat diselesaikannya penulisan makalah dengan judul sistem pendidikan nasional.
Shalawat dan salam kepada baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau sampai akhir zaman.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya penyusun tidak sanggup menyelesaikan sendiri tanpa bantuan dari pihak lain. Olehnya itu penulis menghaturkan ucapan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya terutama kepada Orang tua kami yang setia membimbing kami dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya dengan penuh kesadaran bahwasanya makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekhilafan. Namun demikian, penulis berharap dengan adanya makalah ini sekurang-kurangnya dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam upaya mengetahui dan memahami pengertian, fungsi serta dampak negatife israiliyyat bagi ajaran agama Islam.
Makassar, 27 Desember 2009
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kaum muslimin mengakui sepenuh hati bahwa Al Quran merupakan petunjuk bagi manusia. Namun demikian diakui juga bahwa tidak semua kaum muslimin secara lagsung dapat memahami Al Quran sebagai petunjuk hidup. Oleh karena itu,
bantuan penafsiran dan penakwilan terhadap Al Quran sangat dibutuhkan. Disini nampaklah peran mufassirin untuk memberikan penafsiran-penafsiran agar Al Quran dapat dipahami dan diamalkan sebagai petunjuk hidup yang aplikatif bagi manusia.
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam penafsiran Al Quran, yaitu at-tafsiru bi al-ma’sur dan at tafsiru bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ma’sur terdiri dari tiga macam, yaitu Tafsir Al Quran bi Al Quran, Tafsir Al Quran bi as-sunnah, dan tafsir Al Quran bi atsar al-shabi. Sedangkan tafsir bi ar ra’yi dalam penafsiran Al Quran dengan menggunakan akal atau ijtihad. Masing-masing memiliki pendekatan memiliki kelemahan dan kelebihan. Salah satu kelemahan yang dimiliki tafsir yang menggunakan pendekatan al ma‟sur adalah masukknya unsur unsur israiliyyat didalamnya.1
Term israiliyyat dalam tafsir Al Quran erat sekali hubungannya dengan masyarakat Aarab jahiliyyah. Diantara penduduk arab itu terdapat masyarakat

1 Abu Anwar, Ulumul Quran, ( Cet. II; Pekanbaru. Amzah, 2005 ), h. 105

yahudi yang pertama memasuki jazirah arab karena adanya desakan dan siksaan dari Titus, Seorang panglima Romawi, Sekitar tahun 70 Masehi.2
Hingga saat ini sebagian dari umat muslim khususnya mahasisiwa sebagai tulang punggung agama dan negara belum mengetahui dan memahami, apa pengertian dan relevansi israiliyyat terhadap Al Quran. Hal inilah yang membuat kami, penulis, terinspirasi untuk membuat makalah yang berjudul israiliyyat, Selain itu, makalah ini merupakan tugas dalam mata kuliah kami, Ulumul Quran.

2 Khalaf Muhammad Al-Husaini, Al Yahudiat baina Al-Masihiyyat wa Al-Islam , ( Mesir: Al-Muassasat Al-Misriyat Al-Amanh, 1964 ), h. 33

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka pertanyaan yang menjadi batasan masalah dalam makalah ini untuk pembahasan selanjutnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang pengertian israiliyyat ?
2. Bagaimana latar belakang historis timbulnya serta pendapat ulama tentang israiliyyat?
3. Apa hukumnya periwayatan israiliyyat dan dampaknya terhadap kesucian agama islam ?

C. Tujuan dan Kegunaan
1. Tujuan
a) Untuk mengetahui dan memahami betul pengertian israiliyyat dalam tafsir Al Quran.
b) Untuk mengetahui latar belakang historis timbulnya israiliyyat serta pendapat ulama tentang israiliyyat
c) Untuk mengetahui hukum periwayatan israiliyyat dan dampaknya terhadap kesucian agama islam.
2. Kegunaan
a) Secara teoritis yaitu dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan informasi dalam menambah ilmu pengetahuan khususnya di bidang uluumul Quran.
b) Secara praktis yaitu dengan hasil makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan kajian bagi mahasiswa lain untuk mengetahui, memahami, dan lebih berhati hati dalam menafsirkan Al Quran.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Israiliyyat
Kata israiliyat,secara etimologis merupakan bentuk jamak dari kata israiliyyah, Nama yang dinisbahkan kepada kata Israil (Bahasa Ibrani) yang berarti „Abdullah (Hamba Allah).3 Dalam pengertian lain israiliyat dinisbatkan kepada Nabi Ya‟kub bin Ishaq bin Ibrahim. Hal ini didasarkan sebuah hadits riwayat Abu Daud At-Tayalisi dari Abdullah bin Abbas ra. Yang artinya : “Sekelompok yahudi telah datang kepada nabi, Lalu nabi bertanya kepada mereka : Tahukah anda sekalian bahwa sesungguhnya Israil itu adalah Nabi Ya‟kub ? Mereka menjawab, benar ! Lalu Nabi berdoa : Ya Tuhanku ! Saksikanlah pengakuan mereka ini”,4 dan terkadang israiliyat identik dengan yahudi kendati sebenarnya tidak demikian. Bani Israil merujuk kepada garis keturunan bangsa, sedangkan Yahudi merujuk kepada pola pikir termasuk di dalamnya agama dan dogma.
Secara terminologis, kata israiliyyat, kendati pada mulanya hanya menunjukkan riwayat yang bersumber dari kaum Yahudi, namun pada akhirnya, para ulama tafsir dan hadis menggunakan istilah tersebut dalam pengertian yang lebih luas lagi. Oleh karena itu, ada ulama yang

3 Muhammad Husein al-Khalaf, al-Yahudiyyah bayna al-Masihiyyah wa al-Islam, (Mesir: al-Muassasah al-Mishriyyah, 1962), h. 14. Abu Abd Allah Muhammad al-Anshari al-Qurthhubiy, al-Jami li Ahkam Al-quran, jilid I (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah,), h. 331.
4 Ahmad Muhammad Syakir, ‘Umdah Al-Tafsir ‘an Al-Hafidz Ibnu Al-Katsir (Mesir:Dar al Ma‟rif,1956),Jilid I,h. 138.

mendefinisikan israiliyyat yaitu sesuatu yang menunjukkan pada setiap hal yang berhubungan dengan tafsir maupun hadis berupa cerita atau dongeng-dongeng kuno yang dinisbahkan pada asal riwayatnya dari sumber Yahudi, Nasrani atau lainnya.5 Di katakan juga bahwa israiliyyat termasuk dongeng yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadis yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam sumber lama. Kisah atau dongeng tersebut sengaja diselundupkan dengan tujuan merusak akidah kaum Muslimin.6
Menurut Ahmad Khalil Arsyad, Israiliyyat adalah kisah-kisah yang diriwayatkan dari Ahl al-Kitab, baik yang ada hubungannya dengan agama mereka ataupun tidak.7Dalam pendapat lain dikatakan bahwa agama merupakan pembauran kisah-kisah dari agama dan kepercayaan non-Islam yang masuk ke Jazirah Arab Islam yang dibawa oleh orang-orang Yahudi yang semenjak lama berkelana ke arah timur menuju Babilonia dan sekitarnya, sedangkan kea rah barat menuju Mesir. Setelah berita (akhbar) keagamaan yang mereka jumpai dari negera-negara yang mereka singgahi. Diantara cerita-cerita yang termasuk israiliyyat itu kisah Gharaniqah, kisah Zainab bint Jahsy, cerita kapal Nabi Nuh, warna anjing Ashab al-Kahf, makanan yang diberikan kepada Maryam. Dajjal dan lain-lain.
Jadi, Kalau dilihat dari pengertian-pengertian itu maka unsur-unsur yahudi lebih banyak dan kuat dalam israilliyyat dibandingkan dengan yang

5 Muhammad Husein al-Khalaf,Op.cit, h.19.
6 Muhammad Husein al-Khalaf,Op.cit, h.20.
7 Ahmad Khalil Arsyad, Dirash fi Alquran, (Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1972), h. 15.

lainnya. Hal ini mungkin saja dikarenakan peranannya lebih menonjol dalam membawakan kisah-kisah tersebut pada permulaan Islam.
Secara keseluruhan yang dimaksud israiliyyat adalah semua unsur-unsur yang berasal dari kisah-kisah Yahudi, Nasrani, dan lainnya serta bentuk-bentuk kebudayaan mereka yang masuk dalam tafsir Al Quran

B. Latar Belakang Historis Timbulnya Israiliyyat Serta Pendapat Ulama Tentangnya
Sebelum Islam datang, ada satu golongan yang disebut dengan kaum Yahudi, yaitu sekelompok kaum yang dikenal mempunyai peradaban yang tinggi dibanding dengan bangsa Arab pada waktu itu. Mereka telah membawa pengetahuan keagamaan berupa cerita-cerita keagamaan dari kitab suci mereka.8
Pada waktu itu mereka hidup dalam keadaan tertindas dan siksaan dari Titus, Seorang panglima Romawi. Banyak di antara mereka yang lari dan pindah ke jazirah Arab. Ini terjadi kurang lebih pada tahun 70 M.9 Pada masa inilah diperkirakan terjadinya perkembangan besar-besaran kisah-kisah israiliyyat, kemudian mengalami kemajuan pada taraf tertentu. Disadari atau tidak, terjadilah proses percampuran antara tradisi bangsa Arab dengan khazanah tradisi Yahudi tersebut.10 Dengan kata lain, adanya kisah Israiliyyat

8 Manna „Khalil Al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Al-Quran, terjemah Mudzakir AS (Jakarta: Litera Antar Nusa, 1996), h. 42.
9 Khalaf Muhammad Al-Husaini, Al Yahudiat baina Al-Masihiyyat wa Al-Islam , ( Mesir: Al-Muassasat Al-Misriyat Al-Amanh, 1964 ), h. 33
10 Amin Al-Khuli, Manhajut Tajaad fit Tafsir, (Kairo: Darul Ma‟arif, 1961), h. 227.

merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab jahiliyah dan kaum Yahudi serta Nasrani.11
Pendapat lain menyatakan bahwa timbulnya israiliyyat adalah, pertama, karena semakin banyaknya orang-orang Yahudi yang masuk Islam. Sebelumnya mereka adalah kaum yang berperadaban tinggi. Tatkala masuk Islam mereka tidak melepaskan seluruh ajaran-ajaran yang mereka anut terlebih dahulu, sehingga dalam pemahamannya sering kali tercampur antara ajaran yang mereka anut terdahulu dengan ajaran Islam.
Kedua, adanya keinginan dari kaum Muslim pada waktu itu untuk mengetahui sepenuhnya tentang seluk-beluk bangsa Yahudi yang berperadaban tinggi, di muka Al Quran hanya mengungkapkan secara sepintas saja. Dengan ini maka muncullah kelompok mufasir yang berusaha meraih kesempatan itu dengan memasukkan kisah-kisah yang bersumber dari orang-orang Yahudi dan Nasrani tersebut. Akibatnya tafsir itu penuh dengan kesimpangsiuran, bahkan terkadang mendekati khurafat dan takhayul.
Ketiga, adanya ulama Yahudi yang masuk Islam seperti Abdullah bin Salam, Ka‟ab bin Akhbar, Wahab bin Manabbih. Mereka dipandang mempunyai andil besar terhadap tersebarnya kisah israiliyyat pada kalangan Muslim.12 Hal ini dipandang sebagai indikasi bahwa kisah israilliyat masuk ke dalam Islam sejak masa sahabat dan membawa pengaruh besar terhadap kegiatan penafsiran Al Quran pada masa-masa sesudahnya.

11 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: MIzan, 1995), h. 46.
12 Ignaz Goldziher, Madzahib at-Tafsir Al-Islami, (Kairo: As Sunnah Al-Muhammadiyah, 1995), h. 113.

Disamping itu, Pedagang arab jahiliyyah banyak melakukan perjalanan dagang (Ar Rihlah) pada musim dingin (ke negeri Yaman) dan pada musim panas (ke negeri Syam).13 Dan kedua tempat tersebut banyak penduduk yang terdiri dari ahli kitab. Pertemuan antara pedagang Arab jahiliyyah dengan ahli kitab ini menjadikan pendorong masuknya kisah-kisah Yahudi kedalam bangsa Arab.
Selanjutnya pada waktu Nabi hijrah dari makkah ke Madinah, didapati kontak dagang mereka masih lancar, Bahkan di Madinah itu sendiri banyak kelompok Yahudi yang tinggal di sana, Seperti kelompok bani nadhir, bani qoinuqa‟, dan bani quraizha. Dari kelompok-kelompok mereka ini ada yang masuk islam, Bahkan termasuk dari kalangan pemimpin mereka yang pandai.
Ada beberapa ulama memberikan pendapat tentang pengambilan atau periwayatan israiliyyat dalam tafsir Al Quran, Diantaranya :
1. Ibnu Taimiyyah (1263-1328)
Ibnu Taimiyyah, dalam kitabnya “ Muqaddimah fi ushuli at tafsir ” Halaman 26-28 yang dikutip oleh Dr. Husein Az Zahabi, Membagi cerita-cerita israiliyyat kepada tiga macam, Yaitu, cerita-cerita yang dibenarkan oleh agama Islam, Certa-cerita yang bertentangan dengan agama Islam, dan Cerita-cerita yang Islam tidak benarkan, Tetapi tidak juga menyalahkan (Maskut anhu).14 Menurutnya yang boleh diterima hanyalah cerita-cerita israiliyyat

13Yayasan Peterjemah/Penafsir Al Quran, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (jakarta : 1971), h. 1106.
14Az-Zahabi, Al Israiliyyat,(Damsiq:Dar Al-Iman), h .68.

yang pertama. Penerimanya bukan untuk i‟tiqad akan tetapi hanya untuk istisyhad. Sementara dua lainnya pada intinya tidak boleh diambil.
2. Ibnu Katsir (w. 774 H)
Ibnu Katsir membagi israiliyyat menjadi tiga macam, yaitu :
a. Cerita-cerita yang sesuai kebenarannya dengan Al Quran, Berarti cerita itu benar. Dalam hal ini cukuplah Al Quran yang menjadi pegangan. Kalaupun diambil cerita tersebut hanyalah sebagai bukti adanya saja, Bukan untuk dijadikan pegangan atau hujjah.
b. Cerita yang terang-terangan dusta, Karena menyalahi ajaran kita (Islam). Cerita serupa ini harus ditinggalkan, Karena menurutnya, merusak aqidah kaum muslim
c. Cerita yang didiamkan (Maskut anhu), Yaitu cerita yang tidak ada keterangan kebenarannya dalam Al Quran, akan tetapi juga tidak bertentangan dengan Al Quran. Cerita serupa ini tidak boleh dipercaya dan tidak boleh pula kita (umat Islam) mendustakannya. Misalnya nama-nama Ashabul Kahfi dan Jumlahnya. Namun cerita itu boleh diriwayatkan dengan hikayat.15

15Abu Al-Fida‟ Ismail bin Katsir, Tafsir Ibn al-Katsir (Bairut: Dar Al-Fikri,1986), h.5.

3. Al Biqa‟I (w.881 H)
Pandangan Al Biqa‟I terhadap cerita-cerita israiliyyat juga senada dengan pandangan sebelumnya. Dia membolehkan cerita-cerita tersebut dimuat dalam tafsir Al Quran selama tidak bertentangan dengan agama Isalm. Dan beliau mengingatkan bahwa cerita-cerita itu dimuat hanya sebagai bukti bagi manusia, Bukan untuk dijadikan dasar aqidah dan bukan pula dijadikan sebagai dasar hukum.
C. Dampak Israiliyyat Terhadap Kesucian Agama Islam dan Hukum Periwayatannya
Menurut Al Dzhabi, jika israiliyyat itu masuk dalam khazanah tafsir Al Quran, ia dapat menimbulkan banyak dampak negatif, di antaranya:
1. Dalam israiliyyat terdapat unsur penyerupaan pada Allah, peniadaan ishmah pada Nabi dan Rasul dari dosa, karena mengadung tuduhan perbuatan buruk yang tidak pantas bagi orang adil, terlebih sebagai Nabi. Hal ini, kalau tidak segera diantisipasi, kalau tidak segera diantisipasi berdasarkan pengajaran akidah yang kuat akan merusak akidah kaum Muslimin.
2. Israiliyyat memberi kesan bahwa Islam seolah mengandung khurafat dan penuh dengan kebohongan yang tidak ada
sumbernya. Ini jelas bahwa israiliyyat memojokkan dan merusak citra Islam.
3. Israillyat menghilangkan kepercayaan pada ulama salaf. Baik dari kalangan sahabat maupun tabi‟in.
Israiliyyat dapat memalingkan manusia dari maksud dan tujuan yang terkandung dalam ayat-ayat Al Quran.
Berikut Ada beberapa kitab tafsir Al Quran yang diduga keras banyak mengambil cerita-cerita israiliyyat.
1. Jami‟ al-bayan fi tafsir Al Quran
Tafsir ini disusun oleh Ibn Jarir al-Thabariy (224-310 H), seorang yang terkenal dalam bidang fiqh dan hadis, di samping ahli tafsir. Kitab tafsir ini termasuk di antara sekian banyak tafsir yang terpopuler dan menjadi referensi dalam tafsir bi al-ma‟tsur terdiri dari 30 Juz yang masing-masing berjilid tebal. Menurut al-Dzhabi, tafsir karya al-Thabari ini merupakan tafsir pertama di antara tafsir-tafssir awal yang pertama pada masa dan ilmunya.
2. Tafsir muqatil
Tafsir ini di susun oleh Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H), Seorang yang ahli dalam bidang tafsir. Ia juga banyak mengambil hadis dari tabi‟in terkenal, seperti Mujahid ibn Jabbar, Atha Indonesia Rabbah, Dhahak ibn Mazhahiru dan “Athiyah ibn Sa‟id al-Awfi. Namun, menurut sebagian pendapat, ia tidak mengambil hadis dari ad-Dhahak, karena Dhahak meninggal 4 tahun sebelum Muqatil meninggal.
3. Tafsir al-Kasyaf wa al-Bayan
Penulis tafsir ini Ahmad ibn Ibrahim al-Tsa‟labi al-Naisaburiy. Panggilannya Abu Ishaq yang wafat tahun 427 H Ia menafsirkan Al Quran berdasarkan hadis yang bersumber dari ulama Salaf. Sayangnya, dalam menukil sanad-sanad hadis, ia tidak mencantumkannya secara lengkap. Tafsir ini sedikit membahas nahwu dan fiqh; karena ia seorang pemberi nasehat, maka ia senang terhadap kisah-kisah. Oleh karena itu. Dalam kitab tafsirnya ini banyak cerita-cerita israiliyyat yang janggal dan cenderung menyimpang dari kebenaran.
4. Tafsir ma‟alim al-Tanzil
Tasfir ini ditulis oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Husain bin Mas‟ud bin Muhammad Al-Baghawiy, seorang ahli tafsir dan hadis serta berfaham Syafi‟i. Tafsirnya lebih ringkas kendati banyak berisi cerita israiliyyat. Namun, secara umum, tafsir ini lebih baik dan lebih murni ketimbang kebanyakan tafsir-tafsir bi al-ma’tsur.
5. Tafsir lubab al-ta‟wil fi ma‟aniy al-tanzil
Ala‟ al din al hasan, Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Amr ibn Khalil Al-Syaibaiy (678-741 H) dikenal penulis dari tafsir al-Lubab ini. Sebagai seorang sufi yang senang memberi nasehat, maka tidak heran jika senang bercerita. Ia juga dikenal sebagai khzim (penjaga kitab-kitab samisatiyah) di Damaskus, sehingga bacaannya akan kitab-kitab tersebut mempengaruhi tulisan tafsirnya.
6. Tafsir Al Quran Al Azhim
Tasfir ini popular dengan sebutan tasir ibn katsir, nama tafsir yang dinisbatkan kepada pengarangnya, yaitu Ibn Katsir; nama lengkapnya Hafizh Imad al-Din abu al-Fida Isma‟il ibn Katsur ibn Dhaw ibn Zar „a al-Bishri al-Dimasyqiy. Ia seorang tekenal ahli fiqh, ahli hadis dan ahli tafsir penganut mazhab al-Safi‟i.16
Dan segi kandungannya, secara garis besar, israiliyyat terbagi menjadi tiga bagian, Pertama, kisah israiliyyat yang benar isinya, sesuai dengan Alquran dan hadis. Kedua, kisah israiliyyat yang bertentangan dengan Alquran dan hadis. Ketiga, kisah israiliyyat yang tidak diketahui benar tidaknya.
Dan ketiga kategori kisah-kisah israillyat itu, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa cerita israiliyyat yang shahih boleh diterima; cerita yang dusta harus ditolak; dan yang tidak diketahui kebenaran dan kedusataannya didiamkan; tidak didustakan dan tidak juga dibenarkan; jangan mengimaninya dan jangan pula membohonginya.
Al-Biqa‟I berpendapat bahwa hukum mengutip riwayat dari bani Israil yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan oleh kitab Al Quran dibolehkan, demikian pula dari pemeluk agama lain, karena tujuannya di bolehkan, demikian pula dari pemeluk agama lain, karena tujuannya hanyalah ingin mengetahui semata, bukan untuk dijadikan pegangan. Sedangkan menurut Jumhur, israiliyyat, sepanjang tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadis dapat diterima dan menolak israiliyyat yang bertentangan dengan keduanya.

16 Supiana dan M. Karman,, Ulum Quran, (Pustaka Islamika, bandung, 2002). h .197-208.

Adapun israiliyyat yang tidak diketahui benar tidaknya, bersifat tawaqquf. Hal ini didasarkan kepada Hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah.
لاتصدقوا اهم انكتاب ولا تكذبواهم وقونوا امنا بالله وماانزل انينا وما انزل انيكم
Artinya:
“Janganlah kamu sekalian membenarkan Ahl al-Ktab dan jangan pula mendustakannya: ucapkanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada kitab yang di turunkan kepadamu”.17

17 Ahmad bin Hambal, Musnad, (Beirut: Al Maktab Al-„Ilmi), Jilid III, h.1987.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan dari uraian-uraian sebelumnya yang menyangkut israiliyyat, maka dalam bab ini penyusun akan mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut :
A. Kesimpulan
1. Kata israiliyat, secara etimologis merupakan bentuk jamak dari kata israiliyyah; nama yang dinisbahkan kepada kata Israil (Bahasa Ibrani) yang berarti „Abdullah (Hamba Allah). Secara terminologis, sesuatu yang menunjukkan pada setiap hal yang berhubungan dengan tafsir maupun hadis berupa cerita atau dongeng-dongeng kuno yang dinisbahkan pada asal riwayatnya dari sumber Yahudi, Nasrani atau lainnya.
2. Sebelum Islam datang, ada satu golongan yang disebut dengan kaum Yahudi, yaitu sekelompok kaum yang dikenal mempunyai peradaban yang tinggi dibanding dengan bangsa Arab pada waktu itu, Dan inilah yang merupakan asal muasal israiliyyat masuk dalam penafsiran dalam ajaran agama Islam.
3. Al-Biqa‟I berpendapat bahwa hukum mengutip riwayat dari Bani Israil yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan oleh kitab Al Quran dibolehkan, karena tujuannya hanyalah ingin mengetahui semata, bukan untuk dijadikan pegangan
B. Saran-Saran
Untuk kemajuan pemahaman dibidang agama khususnya dalam israiliyyat, maka penulis merasa perlu memberikan saran-saran yang diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan dan sumbangsih pemikiran bagi generasi bangsa pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai berikut :
1. Di tengah-tengah kondisi bangsa kita yang sedang dilanda krisis multi dimensi khususnya di bidang agama, maka kita semua senantiasa dituntut untuk dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga akan melahirkan manusia yang berkualitas dan berkepribadian yang tinggi.
2. Kepada para generasi bangsa agar dapat senantiasa mengetahui dan memahami urgensi tentang relevansi antara Al Quran dan Israiliyyat sehingga dalam penafsiran Al Quran tidak keluar dari ketentuan kita sebagai umat muslim.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Anwar, Ulumul Quran, Pekanbaru: Amzah, 2005.
Ahmad Khalil Arsyad, Dirash fi Alquran, Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1972.
Amin Al-Khuli, Manhajut Tajaad fit Tafsir, Kairo: Darul Ma‟arif, 1961.
Az-Zahabi, Al Israiliyyat, Damsiq:Dar Al-Iman.
Abu Al-Fida‟ Ismail bin Katsir, Tafsir Ibn al-Katsir ,Bairut: Dar Al-Fikri,1986.
Ignaz Goldziher, Madzahib at-Tafsir Al-Islami, Kairo: As Sunnah Al-Muhammadiyah, 1995.
Muhammad Khalaf Al-Husaini, Al Yahudiat baina Al-Masihiyyat wa Al-Islam, Mesir: Al-Muassasat Al-Misriyat Al-Amanh, 1964 .
Muhammad Husein al-Khalaf, al-Yahudiyyah bayna al-Masihiyyah wa al-Islam, Mesir: al-Muassasah al-Mishriyyah, 1962.
Muhammad al-Anshari al-Qurthhubiy, al-Jami li Ahkam Al-quran, jilid I Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
Muhammad Ahmad Syakir, ‘Umdah Al-Tafsir ‘an Al-Hafidz Ibnu Al-Katsir Mesir:Dar al Ma‟rif,1956.
Manna „Khalil Al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Al-Quran, terjemah Mudzakir AS Jakarta: Litera Antar Nusa, 1996.
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, Bandung: MIzan, 1995.
Yayasan Peterjemah/Penafsir Al Quran, Al-Qur’an dan Terjemahnya, jakarta: 1971.
Supiana dan M. Karman,, Ulum Quran, Pustaka Islamika, bandung, 2002.
Ahmad bin Hambal, Musnad, Beirut: Al Maktab Al-„Ilmi, Jilid III.

1 komentar:

Poskan Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com.Muchlis